JAKARTA – Republik Islam Iran kini menghadapi krisis eksistensial ganda. Di saat nilai mata uang Rial (IRR) terjun bebas hingga menyentuh angka 1.725.000 per Euro, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz dan tekanan sanksi internasional telah menempatkan negara ini dalam status siaga tertinggi.
Berdasarkan data pasar bebas yang dihimpun dari portal keuangan Bonbast, nilai Rial telah kehilangan hampir seluruh daya tawarnya. Pelemahan ini menciptakan anomali tajam dalam perdagangan regional:
- Kurs Euro: 1.725.000 Rial per 1 Euro.
- Kurs Rupiah: 1 Rupiah Indonesia (IDR) kini bernilai setara dengan 72,21 Rial.
Dengan angka tersebut, nilai 1 Rial Iran secara praktis kini berada di bawah unit terkecil mata uang Indonesia, yakni hanya Rp0,013. Para pedagang di Teheran melaporkan bahwa transaksi harian kini beralih ke sistem barter atau penggunaan emas, karena uang kertas nasional dianggap “lebih berharga sebagai kertas daripada sebagai alat tukar.”
Pakar ekonomi dari Johns Hopkins University, Steve Hanke, menyebut kondisi ini sebagai “kehancuran moneter total.”
“Rial bukan lagi mata uang yang berfungsi. Kita sedang menyaksikan hiperinflasi yang didorong oleh kepanikan geopolitik dan kegagalan total kebijakan moneter Bank Sentral Iran,” ujar Hanke dalam catatan risetnya.
Sementara itu, dari sisi domestik, Dewan Perdagangan Teheran mengeluarkan peringatan bahwa stok bahan pangan nasional mulai menipis karena importir tidak mampu menebus devisa.
Kejatuhan Rial tidak lepas dari konstelasi geopolitik yang kian menyudutkan Teheran di awal tahun 2026:
- Sanksi ‘Snapback’ PBB: Aktivasi kembali sanksi nuklir secara menyeluruh telah memutus akses Iran ke sistem perbankan SWIFT, menghentikan total aliran dolar dan euro masuk ke negara tersebut.
- Eskalasi di Selat Hormuz: Ancaman penutupan jalur energi oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai respons atas sanksi AS telah memicu kehadiran armada angkatan laut internasional di kawasan tersebut. Hal ini membuat risiko investasi di Iran mencapai titik merah (high risk).
- Ketidakpastian Domestik: Protes “Winter Uprising” yang menyebar di 31 provinsi memaksa pemerintah melakukan pemadaman internet total. Ketidakstabilan ini memicu pelarian modal (capital flight) besar-besaran oleh elit bisnis Iran.
Krisis di Iran telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar global. Harga minyak mentah Brent merangkak naik ke posisi $64,15 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Teluk Persia.
Negara-negara tetangga, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dilaporkan memperketat pengawasan perbatasan untuk mengantisipasi gelombang pengungsi ekonomi dan ketidakstabilan keamanan yang mungkin meluap dari wilayah Iran.
Hingga berita ini diturunkan, Bank Sentral Iran belum mampu melakukan intervensi pasar yang efektif, sementara rakyat Iran harus bersiap menghadapi musim dingin dengan daya beli yang mencapai titik nadir dalam sejarah modern mereka.











