Recent News

Recent News

Recent News

Menempatkan Sosial-Humaniora sebagai Kompas Pembangunan: Pesan Inklusivitas Prabowo dari Halaman Istana

JAKARTA – Selama beberapa dekade, narasi pembangunan nasional sering kali terfokus pada penguasaan teknologi dan sains (STEM) sebagai motor utama kemajuan. Namun, sebuah langkah simbolis dan substansial baru saja diambil oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dengan menghadirkan 1.200 Rektor serta Dekan dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Istana Kepresidenan, pemerintah menegaskan bahwa ilmu Sosial-Humaniora bukan lagi “anak tiri” dalam peta jalan menuju Indonesia Emas 2045.

Kehadiran para pimpinan akademisi ini membawa pesan kuat mengenai inklusivitas akademik. Pemerintah menyadari bahwa percepatan ekonomi dan teknologi tanpa fondasi sosial yang kokoh hanya akan menghasilkan pertumbuhan yang hampa identitas.

Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dalam keterangannya menekankan bahwa pembangunan bangsa adalah kerja multidisiplin. Beliau menyatakan bahwa memahami akar sosial, budaya, dan perilaku manusia merupakan kunci agar inovasi teknologi dapat diterima dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Ilmu sosial dan humaniora adalah kompas moral kita. Teknologi adalah alat, namun pemahaman terhadap manusia dan budaya adalah yang menentukan arah ke mana alat tersebut kita gerakkan,” ujar Prof. Stella di hadapan para akademisi.

Poin-Poin Penting Arahan Istana:

  1. Kesetaraan PTN dan PTS: Pengundangan pimpinan perguruan tinggi tanpa membedakan status negeri atau swasta menunjukkan komitmen pemerintah untuk merangkul seluruh potensi intelektual bangsa.
  2. Sosial-Humaniora sebagai Kompas: Bidang ini diposisikan sebagai pilar strategis untuk menjaga integritas nasional di tengah disrupsi digital dan globalisasi.
  3. Kolaborasi Lintas Disiplin: Pemerintah mendorong integrasi antara riset teknologi dengan kajian sosial untuk memastikan kebijakan publik tepat sasaran dan berbasis data lapangan yang manusiawi.

Langkah ini disambut baik oleh para akademisi dan budayawan sebagai angin segar bagi iklim pendidikan di Indonesia. Pengakuan terhadap ilmu sosial-humaniora diharapkan dapat memperkuat karakter bangsa, menekan angka konflik sosial, dan meningkatkan literasi budaya di tingkat global.

Dengan menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan (human-centered development), pemerintah optimis bahwa target Indonesia Emas 2045 tidak hanya dicapai melalui angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui kualitas peradaban yang tinggi dan inklusif.

Popular

Berita Terkini

“Melihat Fakta, Menyuarakan Nalar.”

Melalui jurnalisme yang hangat, kritis, dan objektif, kami berkomitmen untuk membangun ruang baca yang menumbuhkan kepercayaan dan menghidupkan nalar publik.

© 2025 LensaNalar.com. All Rights Reserved by PT. Skena Corps