Recent News

Recent News

Recent News

AIxiety: Ketika Generasi Muda Tumbuh di Tengah Kecanggihan dan Kecemesan Teknologi.

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini tidak lagi terasa sebagai cerita masa depan. Teknologi ini sudah hadir di ruang kelas, media sosial, hingga dunia kerja. Bagi Generasi Z dan Generasi Alpha terutama pelajar dan mahasiswa kehadiran AI membawa dua sisi sekaligus: peluang dan kecemasan.

Di satu sisi, AI menawarkan kemudahan. Belajar jadi lebih cepat, informasi lebih mudah diakses, dan berbagai tugas bisa diselesaikan dengan bantuan teknologi. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang tidak kalah besar: Apakah semua yang sedang dipelajari hari ini masih relevan besok? Apakah pekerjaan impian masih akan ada ketika kita lulus nanti? Kecemasan inilah yang kini dikenal dengan istilah AIxiety.

Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet, Gen Z dan Gen Alpha sebenarnya sangat akrab dengan teknologi. Mereka terbiasa melihat AI menulis teks, membuat desain, menganalisis data, bahkan meniru cara berpikir manusia. Ironisnya, kedekatan ini justru membuat kekhawatiran semakin nyata. Jika mesin bisa melakukan banyak hal lebih cepat dan efisien, di mana posisi manusia?

Rasa cemas tersebut paling terasa di lingkungan pendidikan. Banyak pelajar dan mahasiswa mulai ragu dengan pilihan jurusan, takut salah arah, atau merasa tertinggal sebelum benar-benar memulai. Tekanan ini semakin diperkuat oleh media sosial yang sering menampilkan kisah sukses di usia muda, seolah hidup harus selalu cepat, sempurna, dan tanpa gagal.

Akibatnya, AIxiety tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental. Pertanyaan tentang masa depan perlahan berubah menjadi pertanyaan tentang nilai diri. Apakah belajar masih penting? Apakah manusia masih dibutuhkan? Ketidakpastian ini wajar, terutama bagi generasi yang hidup di masa perubahan besar.

Namun, melihat AI semata-mata sebagai ancaman bukanlah jawaban. AI tetaplah alat. Ia bekerja berdasarkan data, algoritma, dan perintah manusia. Empati, nilai moral, kreativitas, dan kepekaan sosial masih menjadi kekuatan yang sulit digantikan oleh mesin. Sayangnya, kemampuan-kemampuan ini sering kali kurang mendapat ruang dalam sistem pendidikan yang terlalu fokus pada nilai dan keterampilan teknis.

Di tengah kecemasan tersebut, sebagian generasi muda mulai mengubah cara pandang. AI tidak lagi dianggap musuh, melainkan partner. Teknologi dimanfaatkan untuk belajar lebih efektif, mengeksplorasi ide, dan menciptakan peluang baru. Pendekatan ini menunjukkan bahwa masa depan bukan tentang siapa yang tergantikan, tetapi siapa yang mampu berkolaborasi.

Meski begitu, beban adaptasi tidak seharusnya ditanggung sendirian oleh pelajar dan mahasiswa. Dunia pendidikan, lingkungan sosial, dan pembuat kebijakan perlu menghadirkan narasi yang lebih manusiawi tentang masa depan kerja. Diskusi soal AI seharusnya tidak hanya membahas efisiensi dan inovasi, tetapi juga kesiapan mental dan arah hidup generasi muda.

AIxiety bukan tanda kelemahan. Ia adalah alarm bahwa dunia sedang berubah dengan cepat. Gen Z dan Gen Alpha bukan generasi yang rapuh, melainkan generasi yang tumbuh di masa transisi paling kompleks. Dengan dukungan yang tepat, kecemasan ini bisa berubah menjadi kesadaran bahwa teknologi boleh berkembang, tetapi nilai kemanusiaan tetap harus menjadi pusatnya.

Popular

Berita Terkini

“Melihat Fakta, Menyuarakan Nalar.”

Melalui jurnalisme yang hangat, kritis, dan objektif, kami berkomitmen untuk membangun ruang baca yang menumbuhkan kepercayaan dan menghidupkan nalar publik.

© 2025 LensaNalar.com. All Rights Reserved by PT. Skena Corps