Recent News

Recent News

Recent News

AS Amankan Ladang Minyak Orinoco Usai Penangkapan Maduro; Narasi Narkoterorisme Jadi Pintu Masuk Invasi

JAKARTA – Militer Amerika Serikat secara resmi mengumumkan penguasaan penuh atas Sabuk Orinoco, wilayah dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia, hanya berselang 48 jam setelah penangkapan Nicolás Maduro dalam Operasi Absolute Resolve.

Meskipun Washington bersikeras bahwa invasi ini adalah operasi penegakan hukum untuk memberantas “Negara Narkoba” (Narco-state), langkah cepat penguasaan aset energi memicu perdebatan mengenai motif ekonomi di balik intervensi militer tersebut.

Gedung Putih menyatakan bahwa penahanan Maduro merupakan pelaksanaan dari dakwaan tahun 2020 yang menuduh pemimpin Venezuela tersebut berkonspirasi untuk “menggunakan kokain sebagai senjata guna menghancurkan masyarakat Amerika.”

“Kami tidak sedang berperang dengan rakyat Venezuela. Kami sedang mengeksekusi surat perintah penangkapan terhadap gembong narkotika internasional yang menggunakan kekuasaan negara untuk melindungi kartel,” ujar Menteri Pertahanan AS dalam konferensi pers di Pentagon hari ini.

Namun, di lapangan, operasi militer terlihat lebih fokus pada pengamanan infrastruktur vital ketimbang pengejaran sisa-sisa sindikat narkoba. Pasukan terjun payung AS dilaporkan telah menduduki kilang minyak utama di Jose dan pelabuhan ekspor di Puerto La Cruz tak lama setelah serangan udara dimulai.

Analis energi internasional melihat adanya pola yang jelas antara lokasi serangan dan kepentingan korporasi Barat. Sejak nasionalisasi massal oleh rezim Maduro, perusahaan minyak AS kehilangan akses ke cadangan minyak Venezuela yang mencapai 300 miliar barel.

James Holloway, Analis Senior dari Global Energy Institute, memberikan pernyataan yang memperkuat narasi ini:

“Tuduhan narkoba adalah instrumen hukum yang sangat efektif untuk melumpuhkan kedaulatan sebuah rezim di mata hukum internasional. Namun, kehadiran tank-tank AS di atas ladang minyak Orinoco mengirimkan pesan yang berbeda: ini adalah tentang pengambilalihan kontrol energi global dari tangan pengaruh Rusia dan China.”

Di sisi lain, perwakilan pemerintahan transisi yang didukung AS segera mengumumkan rencana “restrukturisasi total” industri minyak Venezuela.

Vladimir Padrino Lopez, salah satu petinggi militer loyalis Maduro yang kini dalam pelarian, mengeluarkan pernyataan melalui saluran rahasia:

“AS tidak datang untuk menangkap pengedar narkoba. Mereka datang karena mereka haus akan minyak kami yang telah kami lindungi dari eksploitasi korporasi mereka selama dua dekade. Narkoba hanyalah dongeng untuk membius opini publik dunia.”

Pasca pendudukan ladang minyak oleh pasukan AS, saham-saham perusahaan energi raksasa di Wall Street dilaporkan melonjak hingga 8%. Sementara itu, China dan Rusia telah menyerukan sidang darurat Dewan Keamanan PBB, menuduh Washington menggunakan isu kriminalitas sebagai kedok untuk “perampokan energi terbesar di abad ke-21.”

Hingga berita ini diturunkan, militer AS masih melakukan pembersihan di pusat kota Caracas, sementara teknisi energi dari Houston dilaporkan mulai tiba di bandara militer Venezuela.

Popular

Berita Terkini

“Melihat Fakta, Menyuarakan Nalar.”

Melalui jurnalisme yang hangat, kritis, dan objektif, kami berkomitmen untuk membangun ruang baca yang menumbuhkan kepercayaan dan menghidupkan nalar publik.

© 2025 LensaNalar.com. All Rights Reserved by PT. Skena Corps