JAKARTA– Langit politik China sedang mengalami turbulensi hebat. Presiden Xi Jinping baru saja melancarkan apa yang disebut oleh para pengamat sebagai “Operasi Pembersihan Paling Mematikan” dalam satu dekade terakhir. Bukan sekadar kasus korupsi biasa, pemecatan Jenderal Zhang Youxia dan Jenderal Liu Zhenli kini dikaitkan dengan skandal kebocoran rahasia negara yang mengancam jantung pertahanan Negeri Tirai Bambu.
Jenderal Zhang Youxia bukanlah orang sembarangan. Sebagai Wakil Ketua Senior Komisi Militer Pusat (CMC), ia adalah “tangan kanan” sekaligus sahabat masa kecil Xi Jinping. Namun, status “tak tersentuh” itu hancur seketika saat Kementerian Pertahanan China mengonfirmasi penyelidikan terhadapnya pada akhir Januari 2026.
Laporan internal mengindikasikan bahwa penyelidikan ini dipicu oleh temuan lubang hitam dalam manajemen data intelijen militer. Ada dugaan kuat bahwa dokumen sensitif mengenai protokol serangan nuklir dan strategi invasi Taiwan telah bocor ke pihak luar, memicu kemarahan besar di tingkat tertinggi Partai Komunis China.
Diksi “Kudeta Sunyi” muncul karena cara Xi Jinping menyingkirkan para elit militer ini: tanpa kegaduhan publik, namun sistematis. Dengan jatuhnya Zhang Youxia dan Liu Zhenli (Kepala Staf Gabungan), Xi secara praktis telah menghapus seluruh sisa-sisa kepemimpinan militer yang memiliki pengalaman tempur nyata.
“Ini bukan lagi soal disiplin partai, ini soal kelangsungan hidup rezim, Xi sedang membersihkan ‘duri dalam daging’ yang dianggap bisa mengompromikan rahasia negara demi kepentingan faksi atau keuntungan pribadi.” ungkap pengamat pertahanan dari International Institute for Strategic Studies.
Pembersihan besar-besaran ini terjadi di saat China sedang memacu modernisasi militer untuk kesiapan tempur tahun 2027. Skandal ini mengungkap keretakan di dalam tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang selama ini terlihat solid. Para analis memperingatkan bahwa jika benar terjadi kebocoran rahasia negara, China kemungkinan besar akan mengubah seluruh kode enkripsi militer dan strategi perangnya, yang akan berdampak pada stabilitas keamanan di Laut China Selatan dan Selat Taiwan.
Kini, dengan kendali absolut di tangan Xi Jinping, militer China memasuki era baru yang lebih tertutup, lebih loyal, namun sekaligus lebih sulit diprediksi oleh dunia internasional.











