JAKARTA — Iran menyatakan status siaga tinggi menyusul pengerahan armada militer Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah. Seorang pejabat senior Iran menegaskan, Teheran akan menganggap setiap bentuk serangan sebagai perang habis-habisan dan siap merespons secara maksimal.
Pejabat tersebut mengatakan, Iran berharap pengerahan militer AS tidak berujung pada konfrontasi langsung. Namun, seluruh kekuatan militer Iran telah disiapkan untuk menghadapi skenario terburuk. Pernyataan itu disampaikan secara anonim dan dikutip dari The Independent, Sabtu (24/1/2026).
“Iran berada dalam keadaan siaga tinggi. Setiap serangan, baik terbatas maupun tidak, akan kami anggap sebagai perang total dan akan dibalas sekeras mungkin,” ujar pejabat tersebut.
Dalam beberapa hari ke depan, rombongan kapal induk AS beserta aset militer lainnya dijadwalkan tiba di Timur Tengah. Pejabat Iran itu menegaskan, pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Iran akan memicu respons langsung, meski ia menolak merinci bentuk balasan yang disiapkan Teheran.
Menurutnya, Iran tidak memiliki pilihan lain selain memastikan seluruh kemampuan militernya siap digunakan. Langkah tersebut dinilai perlu untuk menjaga keseimbangan kekuatan terhadap pihak mana pun yang berpotensi menyerang Iran.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Kamis (22/1/2026) menyatakan bahwa AS telah mengerahkan “armada” menuju kawasan dekat Iran. Meski demikian, Trump menyebut berharap kekuatan tersebut tidak perlu digunakan. Ia juga kembali memperingatkan Teheran agar tidak menindak demonstran dan tidak mengaktifkan kembali program nuklirnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Pentagon memerintahkan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal perusak pendamping menuju Timur Tengah. Armada tersebut meninggalkan Laut China Selatan dan kini dilaporkan telah berada di Samudra Hindia.
Kapal-kapal perang itu akan bergabung dengan tiga kapal tempur AS yang bersandar di Bahrain, serta dua kapal perusak lain yang beroperasi di Teluk Persia. Kedatangan gugus tempur kapal induk ini diperkirakan membawa sekitar 5.700 personel militer tambahan.
Amerika Serikat diketahui memiliki sejumlah pangkalan strategis di Timur Tengah, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar yang menjadi markas depan Komando Pusat AS. Pengerahan militer skala besar ini mengingatkan pada langkah serupa yang dilakukan AS tahun lalu sebelum terlibat langsung dalam perang Israel melawan Iran.
Ketegangan kedua negara kembali meningkat di tengah rekam jejak konflik sebelumnya, termasuk serangan militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2026. Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam sorotan internasional, dengan risiko eskalasi terbuka antara Teheran dan Washington.











