JAKARTA – Pernyataan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa, yang menegaskan bahwa Program Manfaat Belajar dan Gali (MBG) lebih mendesak dibandingkan dengan penciptaan lapangan pekerjaan, menimbulkan pro dan kontra yang menarik untuk dibahas. Dalam pandangannya, Suharso mengungkapkan bahwa dengan semakin berkembangnya teknologi dan dinamika ekonomi global, fokus utama kita seharusnya bukan hanya pada penciptaan pekerjaan semata, tetapi pada peningkatan kapasitas dan keterampilan individu agar dapat bersaing dalam pasar global yang terus berubah.
Namun, meskipun pandangan tersebut memiliki dasar yang kuat, ada juga argumen yang menentang pendapat Menteri Bappenas ini. Mari kita telaah kedua sisi dari pernyataan tersebut.
Pernyataan Suharso Monoarfa bahwa MBG lebih penting dari sekadar lapangan pekerjaan sebenarnya mengandung makna yang dalam dan sangat relevan dengan kondisi global saat ini. Dalam dunia yang semakin terhubung dan dinamis, dimana teknologi berkembang dengan cepat dan otomatisasi semakin menggantikan pekerjaan manusia, kemampuan untuk terus belajar dan menggali pengetahuan baru menjadi hal yang sangat vital. Program MBG bukan hanya soal menambah keterampilan, tetapi lebih dari itu—ini adalah investasi jangka panjang bagi masyarakat agar mereka dapat beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.
Menurut data dari World Economic Forum (WEF) pada 2025, sekitar 60% pekerja di negara berkembang, termasuk Indonesia, harus meningkatkan keterampilan mereka dalam 5 tahun ke depan agar dapat bertahan di dunia kerja yang semakin otomatis. Jika program MBG lebih difokuskan pada pengembangan keterampilan yang relevan, individu tidak hanya akan siap untuk pekerjaan yang ada saat ini, tetapi juga siap untuk pekerjaan yang belum ada—seperti pekerjaan berbasis teknologi atau pekerjaan yang membutuhkan keterampilan yang lebih tinggi dan spesifik.
Dengan terus mengasah keterampilan, program MBG memberi masyarakat kemampuan untuk tidak bergantung pada lapangan pekerjaan yang terbatas. Keberhasilan ekonomi dan karier seseorang di masa depan akan sangat bergantung pada seberapa cepat dan efektif mereka beradaptasi dengan perubahan ini. Oleh karena itu, menyarankan bahwa program MBG lebih mendesak adalah langkah yang cerdas, karena ini akan mempersiapkan masyarakat untuk dunia yang terus berkembang.
Namun, disisi lain, ada argumen yang kuat bahwa meskipun MBG penting, penciptaan lapangan pekerjaan tetap menjadi prioritas utama. Mengingat Indonesia masih memiliki tingkat pengangguran yang cukup tinggi, sekitar 7,4 juta orang pada 2025 menurut data BPS, fokus yang berlebihan pada MBG bisa mengabaikan kebutuhan mendesak untuk menciptakan pekerjaan yang nyata bagi mereka yang membutuhkan mata pencaharian sekarang juga.
Memang, meningkatkan keterampilan adalah penting, tetapi tanpa adanya lapangan pekerjaan yang tersedia untuk mereka yang telah memperoleh keterampilan tersebut, maka program MBG bisa jadi akan sia-sia. Laporan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada 2024 mengungkapkan bahwa sekitar 30% lulusan universitas di Indonesia masih kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka. Ini menandakan adanya kesenjangan besar antara keterampilan yang dipelajari dengan peluang yang ada di pasar tenaga kerja.
Selain itu, kita tidak bisa mengabaikan kebutuhan akan lapangan pekerjaan yang memberikan kestabilan ekonomi bagi masyarakat. Terlebih lagi, dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global, pemerintah harus menjaga keseimbangan antara menyediakan kesempatan kerja yang cukup dengan mengembangkan keterampilan individu. Tanpa adanya lapangan pekerjaan yang memadai, meskipun keterampilan meningkat, masyarakat tetap akan menghadapi kesulitan dalam mencari nafkah.
Pandangan Menteri Bappenas tentang pentingnya MBG memang memberikan perspektif yang valid mengenai pentingnya pendidikan berkelanjutan dan pengembangan keterampilan untuk menjawab tantangan dunia kerja yang terus berubah. Namun, kita juga tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa lapangan pekerjaan tetap menjadi kebutuhan dasar bagi masyarakat, terutama mereka yang berada di lapisan bawah yang paling membutuhkan stabilitas ekonomi.
Idealnya, kita membutuhkan pendekatan yang menggabungkan kedua aspek ini: peningkatan keterampilan melalui MBG dan penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih luas. Pemerintah harus memperkuat program-program MBG sambil mendorong sektor-sektor ekonomi yang dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak. Dengan cara ini, kita bisa membangun masyarakat yang lebih siap untuk menghadapi masa depan, sambil memastikan bahwa kebutuhan mendesak akan pekerjaan yang layak tetap terpenuhi.
Dengan langkah-langkah yang seimbang, Indonesia dapat mengoptimalkan potensi SDM dan menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, menggabungkan keterampilan dan kesempatan kerja untuk setiap individu.










