Di tengah kepungan gaya hidup urban yang kian distraktif, Nyantrikilat, platform pesantren digital, resmi mengumumkan penyelenggaraan Nyantrikilat 6.0.
Mengusung tema besar “Basic Needs”, program kajian online Ramadhan ini hadir untuk membedah ulang kebutuhan fundamental manusia mulai dari mandat penciptaan hingga kesehatan jiwa bagi masyarakat yang ingin mendalami agama tanpa batasan institusi pesantren.
Nyantrikilat 6.0 memposisikan diri sebagai ruang dialogis yang mempertemukan kedalaman literatur klasik dengan realitas modern.
Sederet tokoh intelektual dan praktisi spiritual dijadwalkan mengisi sesi utama, diantaranya pakar filsafat Dr. Fahruddin Faiz, Gus Rifqil Muslim, Ning Imaz Fatimatuz Zahra, hingga Alwi Fajri.
Memaknai Ulang Kebutuhan Dasar
Tema “Basic Needs” dipilih sebagai respon atas fenomena manusia modern yang terjebak dalam “kebutuhan kosmetik”. Nyantrikilat membagi pembahasan ke dalam empat pilar utama: Origins (Tugas Dasar Penciptaan), Maisyah (Etika Ekonomi), Kesehatan Badani (Tubuh sebagai Amanah), dan Jiwa (Ketenangan Batin).
Founder Nyantrikilat, Ning Sulma Safina, menjelaskan bahwa program ini adalah ikhtiar untuk menjernihkan kembali orientasi hidup manusia yang sering kali tumpul akibat kebisingan duniawi.
“Perjalanan besar tak pernah dimulai dari langkah yang tinggi, melainkan dari batin yang jernih. Lewat tema Basic Needs, kami ingin mengajak teman-teman urban untuk ‘membasuh’ diri, kembali ke kebutuhan esensial. Hidup itu tidak perlu heboh, yang penting cukup, dan cukup bukan berarti berhenti bermimpi,” ungkap Ning Sulma Safina.
Kurikulum Adaptif: Dari Kitab Klasik hingga Realitas Terbaru
Nyantrikilat 6.0 menawarkan dua jalur kelas untuk mengakomodasi latar belakang peserta yang beragam:
Pertama, Kelas Umum: Membedah materi harian seperti kitab Safinatun Naja dan Tafsir yang bersumber dari Nasoihul Ibad, sebuah referensi klasik yang relevan untuk memperbaiki adab dan perilaku keseharian.
Kedua, Kelas Alumni/Santri: Ditujukan bagi mereka yang memiliki dasar keilmuan pesantren, dengan fokus pada praktik langsung Ushul Fiqh, Ilmu Hadits, dan Ilmu Tafsir untuk membedah persoalan kekinian.
Filosofi Air dan Kesadaran Ekologis
Mengambil inspirasi dari peristiwa Isra’ Mi’raj dan kearifan lokal, Nyantrikilat 6.0 juga menekankan pentingnya menjaga “jagat-hayat”. Sebagaimana Nabi Muhammad saw. dibasuh dengan air Zamzam sebelum menembus langit, manusia modern pun butuh “pembersihan” batin sebelum melangkah lebih jauh.
“Kami menggunakan filosofi air: anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli. Ikut arus tapi tidak hanyut. Kami ingin menghadirkan mata air bagi mereka yang haus akan makna di tengah gersangnya rutinitas urban,” tambah Sulma.
Pendaftaran Nyantrikilat 6.0 telah dibuka bagi masyarakat umum. Calon peserta dapat memantau informasi lebih lanjut dan melakukan pendaftaran melalui kanal resmi Instagram @nyantrikilat. Buruan daftar di sini: https://www.nyantrikilat.com
Tentang Nyantrikilat: Nyantrikilat adalah platform pesantren digital yang menawarkan pendidikan agama inklusif yang menyasar kaum muda urban dan profesional. Berfokus pada kajian Islam yang dialogis dan mendalam, Nyantrikilat berupaya menjembatani khazanah pesantren dengan tantangan kehidupan modern di abad ke-21.
Kontak Media: WhatsApp: 085729949702 (Ning Atika Gunardho)
Social Media: @nyantrikilat











