Recent News

Recent News

Recent News

Rupiah Tembus Rp16.832, Tertekan Data Tenaga Kerja AS dan Geopolitik

JAKARTA – Berlawanan dengan performa positif pasar saham, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) justru mengalami tekanan hebat pada perdagangan hari ini, Jumat (9/1/2026). Mata uang Garuda terperosok hingga ke level terlemahnya dalam delapan bulan terakhir seiring dengan dominasi penguatan Dolar AS secara global.

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg dan Yahoo Finance pagi ini, Rupiah dibuka melemah di level Rp16.832 per Dolar AS. Posisi ini menunjukkan penurunan sebesar 34 poin atau setara 0,20% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp16.798 per Dolar AS.

Depresiasi ini memperpanjang tren negatif Rupiah yang telah melemah selama lima hari beruntun sejak awal tahun 2026. Pelemahan ini juga terlihat di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) yang menempatkan Rupiah pada posisi rentan terhadap penguatan indeks Dolar (DXY) yang kini bertengger di level 98,93.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pelemahan Rupiah didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang cukup berat:

  1. Antisipasi Data Tenaga Kerja AS: Pasar global sedang berada dalam mode wait and see menjelang rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat periode Desember. Data ini diprediksi tetap solid, yang akan memberikan ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan sikap moneter yang ketat.
  2. Ketegangan Geopolitik: Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela serta ketegangan di Timur Tengah meningkatkan permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven (pelindung nilai).
  3. Proyeksi Inflasi China: Pasar mencermati kenaikan inflasi di China yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi di kawasan Asia, termasuk Indonesia sebagai mitra dagang utama.
  4. Beban Fiskal Domestik: Dari dalam negeri, laporan defisit APBN 2025 yang mendekati ambang batas 3% terhadap PDB menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar mengenai kebutuhan pembiayaan pemerintah di tengah likuiditas global yang mengetat.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di sepanjang sisa hari perdagangan. Level support berikutnya diperkirakan berada di angka Rp16.840, dan jika tertembus, Rupiah berisiko menuju area Rp16.900 per Dolar AS.

Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus memantau stabilitas ini, terutama setelah cadangan devisa dilaporkan naik menjadi USD 156,5 miliar yang diharapkan mampu menjadi bantalan untuk melakukan intervensi pasar jika diperlukan.

Popular

Berita Terkini

“Melihat Fakta, Menyuarakan Nalar.”

Melalui jurnalisme yang hangat, kritis, dan objektif, kami berkomitmen untuk membangun ruang baca yang menumbuhkan kepercayaan dan menghidupkan nalar publik.

© 2025 LensaNalar.com. All Rights Reserved by PT. Skena Corps