Recent News

Recent News

Recent News

Tren Gaya Pacaran: Ancaman IMS dan Lonjakan Kehamilan Dini di Indonesia

JAKARTA – Tren gaya hidup dan perilaku seksual berisiko di kalangan generasi muda Indonesia kini mencapai titik yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), terjadi lonjakan signifikan pada angka Infeksi Menular Seksual (IMS) serta kasus kehamilan di luar nikah yang berdampak pada tingginya angka pernikahan dini.

Data Kemenkes RI mencatat kenaikan kasus IMS yang drastis pada kelompok usia produktif. Di kategori remaja usia 15–19 tahun, kasus meningkat dari 2.569 pada tahun 2022 menjadi 4.589 kasus pada 2024. Sementara itu, pada kelompok dewasa muda usia 20–24 tahun, lonjakan kasus dilaporkan meningkat hingga sepuluh kali lipat.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, dr. Imran Pambudi, dalam keterangannya menyebutkan bahwa penyakit Sifilis atau “Raja Singa” menjadi infeksi yang paling mendominasi. Beliau menekankan bahwa banyak pengidap baru tidak menyadari gejala awal, sehingga potensi penularan di lingkungan sosial mereka menjadi sangat tinggi.

Sejalan dengan krisis kesehatan, sisi sosiologis remaja Indonesia juga menghadapi tantangan berat. Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, dalam berbagai kesempatan menyoroti pergeseran usia pertama kali melakukan hubungan seksual yang kini banyak terjadi di rentang 16–17 tahun. Hal ini berkorelasi langsung dengan lonjakan kehamilan tidak diinginkan (KTD) yang naik hingga enam kali lipat di beberapa wilayah.

Dampak nyata dari fenomena ini terlihat pada data Mahkamah Agung yang mencatat adanya 59.709 permohonan dispensasi nikah secara nasional. Mayoritas permohonan tersebut diajukan dengan alasan utama sang anak sudah dalam kondisi hamil. Para ahli menilai kondisi ini sebagai “fenomena gunung es” yang mengancam kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Tekanan teman sebaya (peer pressure) dan kemudahan akses konten dewasa melalui platform digital tanpa filter dinilai menjadi faktor pendorong utama. Minimnya literasi kesehatan reproduksi yang akurat membuat remaja sering kali mengambil keputusan tanpa memahami risiko jangka panjang bagi kesehatan fisik maupun mental mereka.

Pemerintah kini terus mendorong penguatan pendidikan kesehatan reproduksi yang lebih terbuka dan komprehensif, baik melalui lembaga pendidikan maupun peran aktif keluarga, guna memutus mata rantai perilaku berisiko di kalangan generasi muda.

Popular

Berita Terkini

“Melihat Fakta, Menyuarakan Nalar.”

Melalui jurnalisme yang hangat, kritis, dan objektif, kami berkomitmen untuk membangun ruang baca yang menumbuhkan kepercayaan dan menghidupkan nalar publik.

© 2025 LensaNalar.com. All Rights Reserved by PT. Skena Corps